*Kenapa Tere Liye MENOLAK Kontes Putri-putrian?
Saya menolak kontes Putri-putrian, dan menghimbau wanita manapun agar tidak ikut. Kenapa? Saya tidak akan membawa dalil agama dalam tulisan ini, saya akan gunakan saja logika, biar sama kuat. Toh, kalaupun saya membawa agama, frekuensi radionya sudah kadung berbeda.
Kenapa saya menolak kontes Putri-putrian? Simpel, hei, tidakkah kalian telah membaca belasan novel Tere Liye, ratusan artikel, ribuan catatan, saya menulis tulisan yang hendak memuliakan wanita. Kecantikan tidak pernah dinilai dari sisi fisik. Saya menyanjung wanita agar mandiri, berpendidikan, percaya diri, dan semua karakter positif lainnya. Saya menulis kisah Laisa dalam novel/film Bidadari-bidadari Surga, meski beribu laki-laki bahkan melihatnya saja ogah, karena Laisa pendek, gempal, rambutnya keriting, jalannya seperti robot, jari tangannya tertekuk, tapi sungguh dia adalah bidadari surga dengan seluruh pengorbanannya untuk adik-adiknya, untuk keluarganya. Hatinya yang cantik, maka cantik sudah sisanya. Saya meletakkan karakter wanita begitu terhormat, memuji mereka sebagai sosok yang amat penting, dalam banyak novel dan tulisan.
Saya mendidik pembaca tulisan saya agar menyingkirkan menilai orang lain dari sisi fisik. Mati2an menanamkan pemahaman baik tersebut, mulai dari tidak memandang rendah orang2 di sekitar kita yang tidak cantik, atau bahkan punya keterbatasan, hingga pemahaman bagaimana sebuah 'kecantikan' hakiki tersebut. Bertahun2 saya melakukannya, terus menerus, lantas orang2 dengan mudahnya kemudian menanamkan pemahaman sebaliknya lewat kontes putri2an, dengan gemerlap seolah hebatnya, padahal, sorry to say, kontes putri2an adalah produk dari industri artifisial. Itu bisnis. Mulai dari bisnis kosmetik, hingga positioning industri raksasa di belakangnya. Tidak pernah ada logika kontes putri2an itu memuliakan wanita.
Maka, apapun itu bentuknya, mulai dari Miss World, Miss Universe, hingga kontes Puteri Kerudung, puteri muslimah, sama saja. Tidak ada bedanya. Mau mereka bilang yang dinilai juga behaviour, brain, hei, lantas kenapa yang menjadi finalis hanya wanita2 cantik saja? Mau mereka bilang yang dinilai bisa mengaji, bisa ilmu agama, dsbgnya, kenapa yang ada di atas panggung hanya wanita2 cantik menurut definisi umum saja? Tidak perlulah membumbui hal-hal yang memang sejatinya kontes kecantikan. Semua kontes ini hanya urusan bisnis, sponsor, tontonan, rating, kapitalisme yang berkedok.
Silahkan jika ada yang punya pendapat berbeda. Itu hak semua orang. Sama berhaknya saya mengemukakan pernyataan ini. Tetapi jika kalian menyukai dunia tulisan Tere Liye, mengerti maksud tulisan2 tersebut, kalian akan paham, kita tidak boleh menilai orang lain dari fisiknya. Semua wanita terlahir cantik. Dan cantiklah semua wanita yang memiliki pemahaman: bahwa keunggulan fisiknya tidak akan diperlombakan, dipertontonkan, dan hal-hal yang jika dipikir lebih mendalam, justeru merendahkan diri sendiri.
Salah satu argumen peserta kontes putri2an macam Miss Universe itu adalah, mereka bisa menaikkan turis mancanegara, meningkatkan pariwisata.
Well yeah, mari kita lihat datanya, Kawan. Venezuela adalah negera yg memenangkan Miss Universe 2008 dan 2009, kalian tahu berapa pertumbuhan turis mancanegara mereka setelah wanita mereka menang? Minus 3%. Jepang yang memenangkan tahun 2007, pertumbuhan turisnya setelah menang, nol sekian persen saja.
Dan Kanada, menang tahun 2005. Berikut data kunjungan turis di negeri itu: 19.145.000 2004 18.771.000 2005 18.265.000 2006 17.935.000 2007 17.142.000 2008
Menakjubkan, sejak menang Miss Universe, kunjungan turis ke Kanada turun drastis dari 18juta orang tinggal 17 juta orang. Di mana letak dampak kontes putri2an itu?
Saya ingin sekali orang2 yang mendukung kontes Putri-putrian, membaca data2 tersebut. Kita ini sedang diperdaya oleh industri artifisial. Jangan2 kita sedang menjadi alat bisnis saja. Dan sangat menyedihkan, jika mereka tidak tahu, kecil sekali, bahkan nihil saja kontribusi kontes2an ini bagi kemajuan pariwisata. Bagi pemilik televisi, rating, sponsor, dsbgnya sih iya, maju bisnisnya.
Motivasi Hari Ini:
Isilah titik-titik di bawah ini (mohon dijawab dengan jujur di dalam hati kita masing-masing)
1. Allah menciptakan TERTAWA dan .......
2. Allah itu MEMATIKAN dan ......
3. Allah menciptakan LAKI-LAKI dan .......
4. Allah memberikan KEKAYAAN dan.......
Mayoritas kita akan menjawab:
1. MENANGIS.
2. MENGHIDUPKAN.
3. PEREMPUAN
4. KEMISKINAN.
Yakin jawaban itu benar? Untuk mengetahui apakah jawaban di atas itu benar atau tidak, mari kita cocokkan jawaban tersebut dengan rangkaian firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam surat An-Najm (53), ayat: 43-45, dan 48. sebagai berikut:
"dan Dia-lah yang menjadikan orang TERTAWA dan MENANGIS." (QS. 53:43).
"dan Dia-lah yang MEMATIKAN dan MENGHIDUPKAN." (QS. 53:44).
"dan Dia-lah yang menciptakan berpasang - pasangan LAKI-LAKI dan PEREMPUAN. " (QS.53:45).
"dan Dia-lah yang memberikan KEKAYAAN dan KECUKUPAN." (QS. 53:48).
Ternyata jawaban kita umumnya BENAR hanya pada no. 1-3. Tapi, jawaban kita untuk no. 4 (kalau mau jujur) umumnya SALAH. Jawaban versi Allah dalam Al-Qur'an bukan KEMISKINAN, tapi KECUKUPAN.
Masya Allah..!!!
Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala hanya memberi KEKAYAAN dan KECUKUPAN kepada hamba-Nya.
Dan yang "menciptakan" KEMISKINAN adalah diri kita sendiri. Hal ini bisa karena ketidakadilan ekonomi, malas, bisa juga karena kemiskinan itu kita bentuk di dalam pola pikir kita sendiri. Itulah hakikatnya, mengapa orang-orang yang senantiasa bersyukur, tapi hidup pas- pasan ia akan tetap tersenyum dan merasa CUKUP. Jadi, marilah kita bangun rasa KECUKUPAN di dalam hati dan pikiran kita, agar kita menjadi hamba-Nya yang selalu BERSYUKUR.
ANAK PERTAMA Seorang pemuda terpelajar sedang berpergian dengan pesawat menuju Jakarta.
Di samping pemuda tersebut, duduk seorang ibu yang sudah berumur. Setelah berkenalan, mereka pun terlibat dalam obrolan ringan.
Pemuda tersebut bertanya :"Ibu ada keperluan apa ke Jakarta?"
"Saya ke Jakarta untuk transit ke Singapura, untuk mengunjungi anak kedua saya", jawab si Ibu. "Wah.. hebat sekali putra Ibu".
Pemuda itu kemudian berpikir. Karena penasaran, pemuda tadi melanjutkan pertanyaannya:
"Tadi ibu bilang, anak yang di Singapura itu anak kedua ya? Bagaimanan dengan kakak dan adik- adiknya?"
Ibu tersebut mulai bercerita:
"Anak ketiga saya seorang dokter, yang keempat seorang Insinyur, anak kelima seorang arsitek, anak keenam seorang manager di sebuah bank dan anak ketujuh seorang pengusaha di Surabaya".
Pemuda tadi terdiam, hebat sekali ibu ini, bisa mendidik anaknya dengan sangat baik. Dari anak kedua sampai ketujuh telah menjadi orang sukses.
Si pemuda melanjutkan pertanyaan :
"Lalu bagaimana dengan anak ibu yang pertama?" Sambil menghela nafas panjang, ibu itu menjawab "Anak saya yang pertama seorang petani di Jogja".
Pemuda tadi langsung menyahut : "Maaf ya ibu jika ibu kecewa dengan anak pertama ibu.
Adik-adiknya berpendidikan tinggi dan telah menjadi orang sukses. Sedangkan dia hanya seorang petani.
" Sambil tersenyum, ibu itu menjawab : "Tidak begitu nak, saya justru sangat merasa bangga dengan anak pertama saya. Karena dialah yang membiayai sekolah semua adik-adiknya".
HIKMAH :
Hal yang paling penting adalah bukan siapakah kamu, tetapi apa yang sudah kamu lakukan.
Nikmati Saja Perjalanan ini...
Saya teringat ketika dahulu pernah membuka kursus bahasa Arab. Ada seorang pendaftar bertanya,
Itulah yang dijawab kiyai saya di pesantren ketika saya mengeluhkan merasa belum dapat apa-apa dalam belajar baca kitab arab. Beliau hanya bilang, "Terusin saja belajar, nanti juga bisa sendiri. "
(Abdullah Haidir)
Jika kita menempuh perjalanan jauh, lalu kita selalu menghitung- hitung setiap kilometer yang kita lewati untuk tiba ditujuan dengan selalu mengulang pertanyaan, 'Kapan akan tiba?' Pastilah perjalanan akan terasa melelahkan, tidak menarik dan membosankan.
Desah kekesalan kerap akan muncul, rona wajah letih pun kerap timbul.
Bagaimana halnya jika kondisinya kita ubah. Abaikan berapa kilometer lagi sisa perjalanan kita.
Toh, tujuannya sudah diketahui, jaraknya pun sudah jelas, waktu tempuhnya juga sudah dapat diperkirakan.
Kalau begitu, tinggal kita nikmatilah perjalanan ini.
Arahkan pandangan anda kepada pemandangan yang silih berganti dapat anda saksikan di tengah perjalanan, atau lihatlah ke atas, langit cerah dengannya awannya berarak, atau anda dapat membuat acara ringan di dalam kendaraan bersama teman perjalanan, atau bahkan diskusi hangat dengan tema menarik. Maka, bisa jadi kenangan indah selama perjalanan akan lebih membekas di hati ketimbang tempat tujuan yang sudah anda jajaki.
Dalam banyak hal, kehidupan kita sering terjebak pada situasi seperti ini. Ketika sedang belajar sesuatu, kita selalu bertanya, 'Kapan saya bisa?' Jika sedang mengawali menulis buku, "Kapan selesainya?" Ketika mengawali usaha, "Kapan untungnya?" ketika sedang menggarap lahan dakwah, "Kapan futuhnya." dst.
"Berapa bulan saya bisa bahasa Arab?" Saya hanya menjawab,
"Belajar saja yang rajin."Sambil dalam hati saya berkata, 'Sejak kecil saya belajar di Madrasah Ibtida'iyah, belajar ngaji sama orang tua, lalu tsanawiyah dan aliyah di pesantren, kemudian masuk LIPIA dengan pengantar bahasa Arab, itupun saya merasa masih belum bisa bahasa Arab. Ini orang bertanya berapa bulan?"
Bahkan, ketika kita sedang menjalani sesuatu dalam kehidupan ini, di tengah perjalanan sudah kita dapatkan berbagai hal yang dapat kita anggap sebagai hasil dari usaha kita, sebelum kita sampai pada tujuan yang dimaksud.
Jadi.... nikmati saja perjalanan ini....
Riyadh, (masih) Syawal 1434
*re-post
Posted by Novi Ahimsa Rosikha on August 27, 2013 at 5:23am
Salam kenal, saya Ahimsa, seorang mahasiswa 21 tahun, yang bercita-cita untuk menjadi Ibu rumah tangga (walaupun sekarang belum menikah, hehe). Untuk teman-teman yang punya cita-cita yang sama dan untuk siapapun calon Ibu serta para Ibu, saya punya cerita inspiratif dari seorang ibu rumah tangga. Berikut saya repost catatan saya dari blog ini .
Semoga bermanfaat dan mohon kritik sarannya.
Tiga anaknya tidak sekolah di sekolah formal layaknya anak-anak pada umumnya. Tapi ketiganya mampu menjadi anak-anak teladan, dua di antaranya sudah kuliah di luar negeri di usia yang masih seangat muda. Saya cuma berdecak gemetar mendengarnya. Bagaimana bisa?
Minggu (21/ 7) lalu, saya mengikuti acara Forum Indonesia Muda (FIM) Ramadhan yang diadakan di UNPAD. Niat awalnya mau nabung ilmu dan inspirasi sebelum pulang kampung, selain juga memang karena pengisi acaranya inspiring. Eh, pembicara yang paling saya tunggu ternyata berhalangan hadir. But, that’s not the point. Semua pembicara yang hadir memang sangat inspiring, tapi saya benar-benar dikejutkan di sesi terakhir. Tentang parenting. Awalnya saya pikir sesi ini mau membicarakan apa gitu. Do you know actually? It talks about a success and inspiring housewife.
Saya langsung melek. Lupa lapar. Like my dream becomes closer. Saya mencari seminar yang membahas tentang keiburumahtanggaan. Nggak tahunya nemu di sana. Lihatlah daftar mimpi besar saya nomor 1-4. Rasanya terbahas semua sore itu. (No offense nomor 2, gue juga kagak tahu kalau urusan itu :p ) Baiklah, mukadimah ini akan terlalu panjang kalau saya lanjutkan.
Namanya Ibu Septi Peni Wulandani. Kalau kalian search nama ini di google, kalian akan tahu bahwa Ibu ini dikenal sebagai Kartini masa kini. Bukan, dia bukan seorang pejuang emansipasi wanita yang mengejar kesetaraan gender lalala itu. Bukan.
Beliau seorang ibu rumah tangga profesional, penemu model hitung jaritmatika, juga seorang wanita yang amat peduli pada nasib ibu-ibu di Indonesia. Seorang wanita yang ingin mengajak wanita Indonesia kembali ke fitrahnya sebagai wanita seutuhnya. Dalam sesi itu, beliau bercerita kiprahnya sebagai ibu rumah tangga yang mendidik tiga anaknya dengan cara yang bahasa kerennya anti mainstream.It’s like I’m watching 3 Idiots. But this is not a film. This is a real story from Salatiga, Indonesia.
Semuanya berawal saat beliau memutuskan untuk menikah. Jika ada pepatah yang mengatakan bahwa pernikahan adalah peristiwa peradaban, untuk kisah Ibu Septi, pepatah itu tepat sekali. Di usianya yang masih 20 tahun, Ibu Septi sudah lulus dan mendapat SK sebagai PNS. Di saat yang bersamaan, beliau dilamar oleh seseorang. Beliau memilih untuk menikah, menerima lamaran tersebut. Namun sang calon suami mengajukan persyaratan: beliau ingin yang mendidik anak-anaknya kelak hanyalah ibu kandungnya. Artinya? Beliau ingin istrinya menjadi seorang ibu rumah tangga. Harapan untuk menjadi PNS itu pun pupus. Beliau tidak mengambilnya. Ibu Septi memilih menjadi ibu rumah tangga. Baru sampai cerita ini saja saya sudah gemeteran.
Akhirnya beliaupun menikah. Pernikahan yang unik. Sepasang suami istri ini sepakat untuk menutup semua gelar yang mereka dapat ketika kuliah. Aksi ini sempat diprotes oleh orang tua, bahkan di undangan pernikahan mereka pun tidak ada tambahan titel/ gelar di sebelah nama mereka. Keduanya sepakat bahwa setelah menikah mereka akan memulai kuliah di universitas kehidupan. Mereka akan belajar dari mana saja. Pasangan ini bahkan sering ikut berbagai kuliah umum di berbagai kampus untuk mencari ilmu. Gelar yang mereka kejar adalah gelar almarhum dan almarhumah. Subhanallah. Tentu saja tujuan mereka adalahkhusnul khatimah. Sampai di sini, sudah kebayang kan bahwa pasangan ini akan mencipta keluarga yang keren?
Ya, keluarga ini makin keren ketika sudah ada anak-anak hadir melengkapi kehidupan keluarga. Dalam mendidik anak, Ibu Septi menceritakan salah satu prinsip dalam parenting adalah demokratis, merdekakan apa keinginan anak-anak. Begitupun untuk urusan sekolah. Orang tua sebaiknya memberikan alternatif terbaik lalu biarkan anak yang memilih. Ibu Septi memberikan beberapa pilihan sekolah untuk anaknya: mau sekolah favorit A? Sekolah alam? Sekolah bla bla bla. Atau tidak sekolah? Dan wow, anak-anaknya memilih untuk tidak sekolah. Tidak sekolah bukan berarti tidak mencari ilmu kan? Ibu Septi dan keluarga punya prinsip: Selama Allah dan Rasul tidak marah, berarti boleh. Yang diperintahkan Allah dan Rasul adalah agar manusia mencari ilmu. Mencari ilmu tidak melulu melalui sekolah kan? Uniknya, setiap anak harus punya project yang harus dijalani sejak usia 9 tahun.
Dan hasilnya?
Enes, anak pertama. Ia begitu peduli terhadap lingkungan, punya banyak project peduli lingkungan, memperoleh penghargaan dari Ashoka, masuk koran berkali-kali. Saat ini usianya 17 tahun dan sedang menyelesaikan studi S1nya di Singapura. Ia kuliah setelah SMP, tanpa ijazah. Modal presentasi. Ia kuliah dengan biaya sendiri bermodal menjadi seorang financial analyst. Bla bla bla banyak lagi. Keren banget. Saat kuliah di tahun pertama ia sempat minta dibiayai orang tua, namun ia berjanji akan menggantinya dengan sebuah perusahaan. Subhanallah. Uang dari orang tuanya tidak ia gunakan, ia memilih menjual makanan door to door sambil mengajar anak-anak untuk membiayai kuliahnya.
Ara, anak ke-2. Ia sangat suka minum susu dan tidak bisa hidup tanpa susu. Karena itu, ia kemudian berternak sapi. Pada usianya yang masih 10 tahun, Ara sudah menjadi pebisnis sapi yang mengelola lebih dari 5000 sapi. Bisnisnya ini konon turut membangun suatu desa. WOW! Sepuluh tahun gue masih ngapain? Dan setelah kemarin kepo, Ara ternyata saat ini juga tengah kuliah di Singapura menyusul sang kakak.
Elan, si bungsu pecinta robot. Usianya masih amat belia. Ia menciptakan robot dari sampah. Ia percaya bahwa anak-anak Indonesia sebenarnya bisa membuat robotnya sendiri dan bisa menjadi kreatif. Saat ini, ia tengah mencari investor dan terus berkampanye untuk inovasi robotnya yang terbuat dari sampah. Keren!
Saya cuma menunduk, what I’ve done until my 20? :0 Banyak juga peserta yang lalu bertanya, “kenapa cuma 3, Bu?” hehe.
Dari cerita Ibu Septi sore itu, saya menyimpulkan beberapa rahasia kecil yang dimiliki keluarga ini, yaitu:
- Anak-anak adalah jiwa yang merdeka, bersikap demokratis kepada mereka adalah suatu keniscayaan
- Anak-anak sudah diajarkan tanggung jawab dan praktek nyata sejak kecil melalui project. Seperti yang saya bilang tadi, di usia 9 tahun, anak-anak Ibu Septi sudah diwajibkan untuk punya project yang wajib dilaksanakan. Mereka wajib presentasi kepada orang tua setiap minggu tentang project tersebut.
- Meja makan adalah sarana untuk diskusi. Di sana mereka akan membicarakan tentang ‘kami’, tentang mereka saja, seperti sudah sukses apa? Mau sukses apa? Kesalahan apa yang dilakukan? Oh ya, keluarga ini juga punya prinsip, “kita boleh salah, yang tidak boleh itu adalah tidak belajar dari kesalahan tersebut”. Bahkan mereka punya waktu untuk merayakan kesalahan yang disebut dengan “false celebration”.
- Rasulullah SAW sebagai role model. Kisah-kisah Rasul diulas. Pada usia sekian Rasul sudah bisa begini, maka di usia sekian berarti kita juga harus begitu. Karena alasan ini pula Enes memutuskan untuk kuliah di Singapura, ia ingin hijrah seperti yang dicontohkan Rasulullah. Ia ingin pergi ke suatu tempat di mana ia tidak dikenal sebagai anak dari orang tuanya yang memang sudah terkenal hebat.
- Mempunyai vision board dan vision talk. Mereka punya gulungan mimpi yang dibawa ke mana-mana. Dalam setiap kesempatan bertemu dengan orang-orang hebat, mereka akan share mimpi-mimpi mereka. Prinsip mimpi: Dream it, share it, do it, grow it!
- Selalu ditanamkan bahwa belajar itu untuk mencari ilmu, bukan untuk mencari nilai
- Mereka punya prinsip harus jadi entrepreneur. Bahkan sang ayah pun keluar dari pekerjaannya di suatu bank dan membangun berbagai bisnis bersama keluarga. Apa yang ia dapat selama bekerja ia terapkan di bisnisnya.
- Punya cara belajar yang unik. Selain belajar dengan cara home schooling di mana Ibu sebagai pendidik, belajar dari buku dan berbagai sumber, keluarga ini punya cara belajar yang disebut Nyantrik. Nyantrik adalah proses belajar hebat dengan orang hebat. Anak-anak akan datang ke perusahaan besar dan mengajukan diri menjadi karyawan magang. Jangan tanya magang jadi apa ya, mereka magang jadi apa aja. Ngepel, membersihkan kamar mandi, apapun. Mereka pun tidak meminta gaji. Yang penting, mereka diberi waktu 15 menit untuk berdiskusi dengan pemimpin perusahaan atau seorang yang ahli setiap hari selama magang.
- Hal terpenting yang harus dibangun oleh sebuah keluarga adalah kesamaan visi antara suami dan istri. That’s why milih jodoh itu harus teliti. Hehe. Satu cinta belum tentu satu visi, tapi satu visi pasti satu cinta
- Punya kurikulum yang keren, di mana fondasinya adalah iman, akhlak, adab, dan bicara.
- Di-handle oleh ibu kandung sebagai pendidik utama. Ibu bertindak sebagai ibu,partner, teman, guru, semuanya.
Daaaan masih banyak lagi. Teman-teman yang tertarik bisa kepo twitter ibu @septipw atau gabung dan ikut kuliah online tentang keiburumahtanggaan diibuprofesional.com.
Hhhhmmm. Gimana? Profesi ibu rumah tangga itu profesi yang keren banget bukan? Ia adalah kunci awal terbentuknya generasi brilian bangsa. Saya ingat cerita Ibu Septi di awal kondisi beliau menjadi ibu rumah tangga. Saat itu beliau iri melihat wanita sebayanya yang berpakaian rapi pergi ke kantor sedangkan beliau hanya mengenakan daster. Jadilah beliau mengubah style-nya.
Jadi Ibu rumah tangga itu keren, jadi tampilannya juga harus keren, bahkan punya kartu nama dengan profesi paling mulia: housewife. So, masih zaman berpikiran bahwa ibu rumah tangga itu sebatas sumur, kasur, lalala yang haknya terinjak-injak dan melanggar HAM? Duh please, housewife is the most prestigious career for woman, right?! Tapi semuanya tetap pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi Jadi apapun kita, semoga tetap menjadi pendidik hebat untuk anak-anak generasi bangsa.
Setelah mengikuti sesi tersebut, saya menarik kesimpulan bahwa seminar kepemudaan tidak melulu bahas tentang organisasi, isu-isu negara, dan lain-lain yang biasa dibahas. Pemuda juga perlu belajar ilmu parenting untuk bekal dalam mendidik generasi penerus bangsa ini. Bukankah dari keluarga karakter anak terbentuk?
Dipost di WA oleh:
@FloweriaSy
@scientiafifah
@fitriarahmaani
@budiimulyanto
@Syafrima
#re-post
Seorang dokter yang bertugas di sebuah desa sdg berkeliling ke rmh warga lalu mampir di seorang petani, ia terkesan oleh kepandaian dan sikap ramah dari anak si petani yang menyambut kedatangannya. Usianya kira-kira 5th, sang dokter penasaran mengapa anak itu begitu ramah.
Tak lama ia menemukan jawabannya, saat ibu anak itu tengah sibuk di dapur mencuci piring-piring dan perkakas dapur yang kotor, si anak datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah:
"Bu, apa yang sedang dilakukan pria dalam foto ini?" Tanyanya.
Sang dokter tersenyum kagum ketika melihat ibu anak itu segera mengeringkan tangannya, duduk di kursi, memangku anak itu dan menghabiskan waktu selama sepuluh menit untuk menerangkan serta menjawab berbagai pertanyaan buah hatinya.
Setelah anak itu beranjak pergi sang dokter menghampiri ibu itu dan berujar,
"kebanyakan ibu tidak mau diganggu saat ia sedang sibuk? Mengapa ibu tidak seperti itu?"
Degan senyum si ibu menjawab, "Saya masih bisa mencuci piring dan perkakas kotor itu selama sisa hidup saya, tetapi pertanyaan-pertanyaan polos putra saya mungkin tidak akan terulang sepanjang hidup saya."
JANGANLAH KITA SEBAGAI ORANG TUA MENJADI TERLALU SIBUK DENGAN PEKERJAAN, HOBI, HEWAN KESAYANGAN DAN LAIN-LAIN SAMPAI-SAMPAI BGITU SEDIKIT BAHKAN....TIDAK ADA WAKTU TERSISA UNTUK BERCENGKRAMA, BERBICARA, BERMAIN BERSAMA DENGAN ANAK.
Jika anak menghampiri Anda dan ingin mengajak berbicara, sebaiknya "Hentikan" apapun yang sedang anda lakukan dan jadilah pendengar yang baik bagi dia. Sadarlah bahwa mungkin itu tidak akan pernah datang lagi. Anda tahu bahwa anak Anda sedang tumbuh besar saat mereka mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ada jawabannya :)
~Diambil dr grup Keluarga Klender~
#re-post
Dari ustaz faris Lc :
Untuk Kita Renungkan:
"Mengapa ridha suami itu adalah surga bagimu wahai para istri?".
- Suamimu dibesarkan oleh ibu yang mencintainya seumur hidup. Namun ketika dewasa, dia memilih mencintaimu yang bahkan belum tentu kamu mencintainya seumur hidupmu, bahkan seringkali rasa cintanya padamu lebih besar daripada rasa cintanya kepada ibunya sendiri.
- Suamimu dibesarkan sebagai lelaki yang ditanggung nafkahnya oleh ayah-ibunya hingga dia dewasa. Namun sebelum dia mampu membalasnya, dia telah bertekad menanggung nafkahmu, perempuan asing yang baru saja dikenalnya & hanya terikat dengan akad nikah tanpa ikatan rahim seperti ayah-ibunya.
- Suamimu ridha menghabiskan waktunya untuk mencukupi kebutuhan engkau & anak-anakmu. Padahal dia tahu, di sisi Alloh, engkau harus dihormati tiga kali lebih besar oleh anak-anakmu dibanding dirinya. Namun tidak pernah sekalipun dia merasa iri, disebabkan dia mencintaimu & berharap engkau memang mendapatkan yang terbaik daripadaNya di sisi Alloh.
- Suamimu berusaha menutupi masalahnya dihadapanmu & berusaha menyelesaikan sendiri. Sedang engkau terbiasa mengadukan masalahmu pada dia dengan harapan suamimu mampu memberi solusi, padahal bisa saja di saat itu, dia sedang memiliki masalah yang lebih besar, namun tetap saja masalahmu di utamakan dibanding masalah yang dihadapinya sendiri.
- Suamimu berusaha memahami bahasa diammu, bahasa tangisanmu. sedangkan engkau kadang hanya mampu memahami bahasa verbalnya saja. Itupun bila dia mengulanginya berkali-kali.
- Bila engkau melakukan maksiat, maka dia ikut terseret ke neraka, karena dia bertanggung jawab akan maksiatmu. Namun bila dia bermaksiat, kamu tidak akan pernah di tuntut ke neraka. karena apa yang dilakukannya adalah hal-hal yang harus dipertanggung jawabkannya sendiri.
- Delapan pintu surga terbuka bagimu & bisa masuk dr pintu manapun yang disuka, cukup dengan dapat "RIDHA" dari suamimu, sedang suamimu tidak mendptkan kemuliaan semacam itu, karena itu taat & bersabarlah kepadanya.
#re-post