KULTWIT USTADZ SALIM A. FILLAH TENTANG NATAL
Oleh Salim A. Fillah
1. Natal ini, terkenang ujaran "Allahu yarham" KH Abdullah Wasi'an (kristolog Jogja -red); "Saudara-saudaraku Nashara terkasih, beda antara kita tidaklah banyak."
2. Wasi'an: "Kalian mengimani Musa, juga 'Isa. Kamipun sama. Tambahkanlah satu nama; Muhammad. Maka sungguh kita tiada beda."
3. Wasi'an: "Kalian imani Taurat, Zabur, & Injil. Kamipun demikian. Tambahkan Al Quran, maka sungguh kita satu tak terpisahkan."
4. Sungguh adanya kerahiban jadikan kalian lembut hati & dekat pada kami; sementara Yahudi & musyrik musuh terkeras kita. (QS 5: 82).
5. Tapi mungkin memang sudah tabiat 'aqidah, satu sama lain tak rela jika kita tak serupa dalam agama secara sepenuhnya. (QS 2: 120).
6. Bagaimanapun, selama kita tak saling memerangi & usir-mengusir tersebab iman, tak terlarang kita saling berkebajikan. (QS 60: 8).
7. Maka inilah kita mencari titik singgung iman demi kebersamaan; itulah pengakuan ke-Ilahi-an Allah tanpa persekutuan. (QS 3: 64).
8. Tetapi kami insyafi sepenuhnya, yakin di dada tak bisa dipaksakan. Kami hormati segala nan tak bisa dipertemukan. (QS 109: 6).
9. Dalam keberbedaan itu, izinkan kami tetap mencintai 'Isa & Maryam, meski kami tak bisa memohon kalian mentakjubi Muhammad.
10. Izinkan jua kami, membaca dengan berkaca-kaca betapa indah Surat dalam Quran yang berjudul Maryam. Gadis tersuci sepanjang zaman.
11. Najasyi Habasyah & Uskup-uskupnya, juga para Patriarkh Najran menitikkan airmata, dibacakan Surat Maryam. Berkenankah kalian jua?
12. Ini sungguh bukti bahwa Allah, Nabi, & Al Quran kami mengajarkan pemuliaan nan mengharukan pada Maryam & 'Isa yang tiada duanya.
13. Termuliakanlah 'Isa dengan penciptaan & kelahiran nan ajaib yang bagi kami begitu agung sebagaimana penciptaan Adam. (QS 3: 59).
14. Termulialah 'Isa nan bicara dalam buaian. Salam sejahtera baginya di saat lahir, kelak diwafatkan, & nantinya dibangkitkan. (QS 19: 33)
15. Saudara Nasrani terkasih; kami mencintai 'Isa, Nabi & RasulNya. Ruh & kalimatNya, yang ditiup-tumbuhkan dalam rahim suci Maryam.
16. #Natal ini, kalian rayakan kelahiran 'Isa yang agung; tapi bagi kami tanggal 25 Desembernya agak membuat terkerut dahi bertanya-tanya.
17. Sebab Maryam nan sungguh berat ujiannya itu bersalin di saat kurma masak penuh tandannya. Kemungkinan itu Maret, bukan Desember.
18. Maafkan jika menyinggung hati, tapi sungguh telah ditulis para Sejarawan, 25 Des itu hari kelahiran Janus & Mitra, Dewa Matahari.
19. Sungguhpun ingin rasanya syukuri lahirnya Rasul Ulul 'Azmi nan teguh hati; 'Isa, agak tak nyaman hati kami dengan hari pagan ini.
20. Sayangnya, hampir seluruh gereja sudah menyepakatinya, sampai seorang Sejarawan memelesetkan 'Son of God' sebagai 'Sun of God'.
21. Itulah awal-awal yang membuat kami berat hati untuk ucapkan Salam Natal. Ini harinya Janus & Mitra. Bukan harinya 'Isa, kawan terkasih.
22. Tentu tradisi ribuan tahun dengan salju & cemara, pohon sesembahan pagan Eropa itu tak bisa kami paksa untuk diubahkan seenaknya.
23. Tinggal kini, dalam hasrat hati tuk membalas penghormatan yang kalian berikan di 'Idul Fitri & Adhha, kami kan simak para 'ulama.
24. Sungguh, agama ini memerintahkan untuk membalas tiap pemuliaan dengan penghargaan yang lebih baik, minimal senilainya. (QS 4: 86)
25. Yang disepakati para 'ulama atas keharamannya adalah keterlibatan dalam segala yang bernilai ritual & ibadah. Pun jua Fatwa MUI.
26. Jika keterlibatan dalam kegiatan Natal nan bersifat ibadah & ritual disepakati haramnya, para 'ulama ikhtilaf pada soal ucapan selamat.
27. Yang membolehi selamat Natal al Dr. Musthafa Az Zarqa, Dr. Yusuf Al Qaradlawy; menyebut tahniah tak terkait dengan ridha atas 'aqidah.
28. Tahniah Natal, kata keduanya; bisa menjadi da'wah sebagaimana Ibrahim bicara tentang tertuhannya bintang, bulan, mentari. (QS 6: 77-83)
29. Oh iya, QS 6: 77-83 TIDAK berkisah tentang 'Ibrahim Mencari Tuhan', tapi 'Ibrahim Berda'wah', demikian ditegaskan Al Qurthuby.
30. Maka tahni-ah Natal yang diikuti komunikasi intensif sebagaimana dilakukan Ibrahim pada penyembah bintang, bulan, mentari adalah indah.
31. Dr. Abdussattar memberi catatan kemubahan tahni-ah Natal ini dengan kehati-hatian memilih diksi. Doa menuju hidayah lebih dianjurkan.
32. Adapun Al 'Utsaimin, Lajnah Fatwa KSA (Kerajaan Saudi Arabia), dll cenderung mengharamkan tahni-ah Natal tersebab hal itu sama dengan meridhai 'aqidah keliru.
33. Jadi ikhtilaf 'Ulama terkait tahni-ah Natal ini ada di ranah pemaknaan kalimat ucapan tersebut. Masing-masingnya lalu mengajukan dalil.
34. Ulamapun berfatwa sesuai konteks di seputarnya, tentu ada perbedaan lingkungan sosial nan melatarbelakangi fatwa nan tak sama.
35. Lajnah Fatwa KSA & Al Utsaimin menjawab di negeri yang nyaris tiada Nasrani. Al Qaradlawy&Az Zarqa berfatwa tuk masyarakat majemuk.
36. Bagaimana sikap atas beda fatwa ucapan Natal? Kata Asy-Syafi'i, Al Khuruj minal Ikhtilaafi Mustahabb: keluar dari selisih itu disukai.
37. Dengan jernih hati & mengukur kapasitas diri, kita bisa mempertimbangkan kedua-duanya. Ada keadaan-keadaan yang harus dicermati.
38. Ikhtilaf ahli ilmu insyaaLlah menjadi kemudahan bagi kita untuk beramal yang tak sekedar benar, melainkan juga tepat & cerdas.
39. Akan ada yang menghajatkan fatwa Al Qaradlawy & Az Zarqa, al; di wilayah muslim minoritas, keluarga majemuk nan erat hubungan dll .
40. Akan ada juga yang hajatkan fatwa Al 'Utsaimin pada posisi memelihara 'izzah agama. Misalnya Raja KSA sebagai Khadimul Haramain.
41. Kata Abu Hanifah; yang terpenting BUKAN mengamalkan pendapat kami atau tidak. Melainkan mengetahui bagaimana kami menetapkannya.
42. Dan adalah dosa; mengatasnamakan 'ulama tuk haramkan sesuatu; padahal mereka tidak; cermati misalnya Fatwa MUI ini: http://media.isnet.org/antar/etc/NatalMUI1981.html
43. Mengamalkan atau tak mengamalkan; jauh lebih ringan dari soal menghalalkan & mengharamkan; karena ia adalah haq Pembuat Syari'at.
44. Sebab itu; para 'Ulama mengistilahkan beda pendapat Fiqh dalam dimensi SHAWAB (tepat) & KHATHA' (keliru), bukannya HAQ & BATHIL.
45. Maka dengan ilmu memadai, mari beramal terbaik bagi iman kita pada Allah, bagi misi kita sebagai ummat terbaik di tengah manusia.
46. Demikian bincang Natal. Semoga tak kecewa karena jawabnya tak satu. Sebab Salim, terlalu bodoh untuk lancang mentarjih ikhtilaf Ulama.
sumber: http://www.donasidakwah.com/2011/12/kultwit-ustadz-salim-fillah-tentang.html?m=
Renungan Dhuha : بِسْــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
AL-QUR'AN ITU TERLALU MULIA KAWAN!!
Islamedia - Al-Qur’an itu terlalu mulia kawan..
Terlalu mulia jika kau sanding dengan kesibukanmu..
”Aku tuh harus bangun pagi. Harus sekolah, ada ulangan, banyak PR, tugas, huhu... Waktuku itu gak ada jedanya pokoknya!”
Jadi.... Al-Qur’an harus ngertiin kesibukanmu, begitu?
Al-Qur’an terlalu agung teman...
Terlalu agung jika kau bandingkan dengan target harianmu..
“hari ini skripsian 5jam, ke perpus, trus mampir ke toko buku, baca jurnal bahasa inggris minimal 2 jurnal, ngikut seminar dan persiapan lomba debat. Aku tuh padet banget agendanya…”
So what??
Al-Qur’an itu terlalu suci kawan...
Terlalu suci untuk kau balap-balap dengan mimpimu..
“2 tahun ke depan harus mendapat beasiswa S2 di Jerman, pada tahun yang sama keliling 3 negara. Setelah wisuda menikah (berharap dapat suami/istri yang hafidz atau minimal punya hafalan agar bisa mengingatkanku untuk menghafal) dan 2 tahun kedepan pindah bersama keluarga ke Amrik. Mapan. Beli rumah. Beli BMW. Anak belajar disekolah internasional”
(tak ada target dirinya pribadi untuk menghafal)
Sungguh!!
Meski tak kau baca, tak kau hafalkan, tak kau tadabburi apalagi tak kau amalkan, Al-Qur’an tak merugi!!
Tak terhinakan
Sama sekali!!!
Hey! Tapi lihat…
Lihat siapa nanti yang kelak akan menangis tersedu..
Meraung-raung meminta dikembalikan dalam keadaan semula agar punya kesempatan membersamai Al-Qur’an..
Bermesra dengan Al-Qur’an..
Benar-benar menjadikannya sahabat..
Nanti.... Suatu saat nanti... Di saat semuanya tak mungkin kembali
Tidak ada kata terlambat utk memulai sesuatu yang baik !!!
Semoga bermanfaat mari bisa rutin min 2 lembar Al Qur'an dibaca dg terjemahanya buka bebas, krn yang bukain nanti Allah, jangan lupa doa u minta petunjuk dan hidayahnya, nanti ada 2 ayat atau ada beberapa ayat yg pas dg masalah kita, pahami praktikan amalkan, peta menuju surga.
Allahumma yassir wala tu'assir?!
Seringkali kita melihat orang memasang status doa seperti ini.
Tahukah kita artinya?
Allahumma yassir wala tu'assir
"Ya Allah permudahlah & jangan Engkau persulit!"
Pantaskah kita memanjatkan doa seperti ini kepada Allah ?
Sedangkan Rasulullah -shallallahu 'alaihi wasallam- bersabda -dalam salah satu doa istiftah beliau.
"dan kebaikan semuanya berada di kedua tanganMu, dan kejahatan/ keburukan tidak dinisbatkan kepadaMu,,"
Dan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengajarkan doa yg jauh lebih baik yaitu..
DO'A KETIKA MENGHADAPI KESULITAN
اَللَّهُمَّ لا سَهْلَ إِلاَّ مَا جَعَلْتَهُ سَهْلاً وَ أَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلاً
"Allahumma laa sahlaa illaa maa ja'altahu sahlaa wa anta taj'alul hazna idza syi'ta sahlaa"
"Yaa Allah, tidak ada kemudahan kecuali apa yang Engkau jadikan mudah. Sedang yang sulit bisa Engkau jadikan mudah, apabila Engkau menghendakinya menjadi mudah."
[HR. Ibnu Hibban dalam kitab shohihnya no.2427. Dishohihkan oleh 'Abdul Qodir Al-Arnauth dalam takhrij Al-Adzkar An-Nawawi hal.187. Lihat As-Silsilah Hadits Ash-Shohihah no.2886. Dikutip dari buku "DO'A & WIRID" karya Al-Ustadz Yazid bin 'Abdul Qodir Jawas
Mari kita lihat kalimat ini
"Allahumma yassir wala tu'assir"
Dalam sebuah riwayat yg shahih..
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepada beberapa da'I yang diutus beliau shollallahu 'alaihi wa sallam untuk mensyiarkan dakwah agama yg mulia ini.
"Yassiruu walaa tu'assiruu,, basyiruu walaa tunaffiruu,,
”Permudahlah, jangan dipersulit,, berilah kabar gembira,jangan ditakut-takuti. .”
Ternyata..
Itu bukanlah doa. Tetapi nasehat buat para da'I.
Jika ini ditujukan kepada Allah, maka salah penempatannya, karena Allah tidak akan mempersulit hamba-Nya dgn ke Maha rahim nya..
“kam minna wa laisa fina, wa kam fina wa laisa minna”
Berapa banyak orang dari kita tapi tidak bersama kita dan berapa banyak yang bersama kita tetapi tidak termasuk dalam golongan kita.
Hassan Al-Banna
Persoalan dilontarkan… maksudnya, berapa banyak orang yang dikalangan kita ni namun hakikatnya mereka tidak sepatutnya berada disini, tidak punya criteria yang sepatutnya sebagai seorang penggerak, tidak mahu, atau niat dia salah. Dan berapa ramai pula, orang yang diluar sana, punya muwosoffat yang baik, lebih layak memikul kerja dakwah, ingin dan mampu melakukannya namun masih belum bersama kita?
Perkara pertama yang perlu diingatkan tujuan utama dakwah adalah usaha menjadi dan membina jiwa-jiwa yang bersifat rabbani. Maka keutamaanya adalah mengajak kerah penyembahan Allah disamping mengalihkan jiwa daripada penyembahan selain Allah. Oleh yang demikian, usrah tahmidi, atau usrah 01 fokusnya adalah kepada pembinaan peribadi muslim. Persoalan seterusnya, bagaimana pula dengan mereka yang menggerakkan dakwah itu sendiri, yang berada pada urah 02, apa pula fokusnya? Sudah pasti, bila dah masuk 02, peribadi muslim itu seharusnya sudah dibentuk. Bukanlah mereka yang sekadar tahu 10 muwosoffat terdiri daripada, sekian sekian, tapi, dirinya sendiri tidak benar-benar menjiwai keperibadian itu. Fokus usrah 02, atau usrah penggerak ini adalah bagi membentuk peribadi yang mendokong fikrah serta faham tentang amal jamie. Jika isu pembentukan keperibadian muslim itu sendiri belum terbentuk, bagaimana jiwa itu mampu menjadi jiwa yang boleh ikhlas mendokong fikrah? Semasa KOSMIK, ana masih lagi ingat (sebab ada salin lah), apakah yang dimaksudkan dengan “adanya fikrah”. Sesuatu fikrah itu hanya boleh berjaya, kiranya pengikutnya:
YAKIN dan ini membuatkan dirinya bersungguh untuk berjaya
KEIKHLASAN dalam berjuang
Semakin BERSEMANGAT dalam merealisasikannya
Ada persiapan untuk BERAMAL & BERKORBAN dalam mewujudkannya
Hassan Al-Banna juga mengatakan bahawa ciri PEMUDA yang NORMAL, adalah mereka yang punya 4 perkara yakni, iman, keyakinan, semangat dan beramal.
Ciri-ciri dakwah
Pertama dan yang utamanya, usrah perlulah bersifat rabbaniyyah. Dimana focus didikan adalah penyembahan pada Allah. Sesuatu usrah itu bukanlah usrah yang sihat kiranya tidak mendekatkan lagi ahlinya kepada Allah, dan boleh dikira salah kiranya mendekatkan ahlinya kepada selain dari Allah.
Yang keduanya, islamiyyah qabla jam’iyah, atau bersifat Islamiyyah sebelum menekankan tentang jemaah.
Yang ketiga, syamilah ghoiru juz’iyah, bersifat menyeluruh bukanlah menekankan sebahagian sahaja