Aqidah untuk anak kita

Saturday, May 31, 2014

Resume Kajian Parenting Nabawiyah, oleh Ust. Budi Ashari, Lc, Rabu 14 Mei 2014.
Bismillah...

Yusya' bin Nun ialah pemuda yg menyertai Nabi Musa AS ketika dlm perjalanan mencari Ilmu pada Nabi Khidr.

Kelak Yusya' menjadi orang besar yg memimpin bani israil.
 
Itulah mengapa dlm konsep Islam, pembantu seharusnya menjadi orang besar selayaknya majikannya.
 
Jadi, Islam memuliakan semua orang. Termasuk pembantu.
 
Bahkan harusnya majikan memberikan makanan dan pakaian pada pembantunya, seperti yg majikan nikmati.
 
Ketika anak mengalami kerusakan bisa jd itu karena pembantunya di rumah.
 
Nabi Muhammad pun merasakan belas kasih sayang dr pembantunya yg mulia, yaitu Ummu Aiman.

Dalam Islam terdapat konsep pemisahan tempat tidur bagi saudara kandung lawan jenis. Sehingga anak sudah diajarkan pendidikan seks perspektif Islam sejak dini.

Dalam Islam pendidikan anak akar atau pondasi awalnya ialah pembelajaran Aqidah.
 
Syaikh Khalid Asy Syantut menukilkan dlm bukunya bahwa Aqidah dlm diri anak istilah yg benar adalah ditumbuhkan.
 

Karena dlm diri anak fitrahnya ialah Islam.


Oleh karena itu seharusnya orang tua lebih mudah mendidik anaknya menjadi anak sholeh, dibanding menjadi anak yg rusak.

Kalau saja dlm pendidikan anak yg dilewatkan ialah pendidikan Aqidah, tetapi memulainya dr pendidikan yg lain, bisa dipastikan Aqidah anak lah yg akan rusak.

Filsafat jahilliyah memandang Aqidah ialah hanyalah pemikiran semata, berdasarkan pembelajaran dr lingkungan.

Sedangkan menurut Islam, Aqidah itu sudah terdapat dlm diri setiap anak, dan lingkungan yg Islami lah yg akan menumbuhkan  Aqidah tersebut.

Dlm Surat Al A'raf ayat 172, menurut Imam Ibnu Katsir : yg dimaksud kesaksian setiap anak cucu Adam dlm Ayat tersebut ialah fitrah setiap manusia yaitu Aqidah yg lurus.


Dlm sebuah penilitian Abu Dhabi, jika pendidikan Agama pada anak rendah akan menyebabkan kerusakan.

Menanamkan moral itu bukanlah dgn mengajarkan moral. Demikian  pula dgn Aqidah. Mengajarkan hanyalah salah satu tangga awalnya.

Islam sangat beradab dan lembut ketika mengajarkan pendidikan seks, bahkan dgn sesama jenis ataupun orang dewasa. Amat sangat jauh dr vulgar. Itu semua perlu kecerdasan. Dan Islam mengajarkan dlm AlQur'an dgn perumpamaan", yg jauh... dari vulgar.

Islam dlm urusan syahwat membuat penghalang" berlapis lapis. Diantaranya : pemisahan tempat tidur, meminta izin untuk masuk kamar orang dewasa, Rasul yg tak pernah bersalaman dgn perempuan non mahram, konsep menjaga pandangan dan pernikahan yg dipermudah.
Sekarang justru dibalik, menikah justru dipersulit, dgn batas" usia dll.

Di sisi lain tayangan" tdk baik dibiarkan  karena ratingnya tinggi. Televisi memiliki kekuasaan tersendiri untuk menaikkan dan menjatuhkan pamor.

Syaikh Khalid mengutip kalimat Syaikh Muhammad Quthb, anak" didalam dirinya akan tumbuh otomatis Aqidahnya.

Bahwa jiwa manusia sangat siap untuk menumbuhkan nilai" kebaikan. Ini sejalan dgn Hadits Rasulullah, setiap anak lahir dlm keadaan fitrah.

Karena itu ALLAH membebankan pendidikan Aqidah anak pada orang tuanya. Bahkan sejak dlm masa penyusuan.
 
Oleh karena itu jika pendidikan Aqidah dimulai sejak masa pemuda, maka orang tua akan memiliki beban yg terlampau berat dlm mendidik anaknya.
 
Hal ini dibuktikan ketika dlm masa kecil, ketika anak kecil melihat orang" baru dlm hidupnya, maka anak" cenderung menjauh dan mendekati orang tuanya.

Syaikh Khalid menukilkan pendapat Imam AlGhazali : orang tua diwajibkan betul dlm pendidikan Aqidah anaknya, bahkan dgn cara ditalqin-kan, sebagaimana membisikkan kalimat La Ila haillallah pada orang yg hampir meninggal.

"Ketahuilah dlm hal masalah Aqidah, seharusnya hal itu (pentalqinan) dilakukan sejak usia anak", agar mereka menghafalnya."


Karena dlm usia anak", tahap pembelajaran mereka ialah dgn menghafal.

Karena sungguh nikmat ALLAH ketika kita mengajarkan anak" untuk beriman padaNYA tanpa menanyakan buktinya.
 
Imam AlGhazali mengkritik pembelajaran Aqidah yg salah : yaitu bkn dgn cara filsafat (debat yg berkepanjangan).
 
Menurut Imam AlGhazali : pembelajaran yg benar adalah dibacakanlah pada anak AlQur'an, lalu diajarkan Tafsirnya.
 
Jika sudah mencapai usia yg ideal, barulah diajarkan Tafsir AlQur'an, agar mengerti maknanya.
 
Baru kemudian diajarkan Hadits.
 
Baru kemudian sibukkan dgn tugas" Ibadah, siapkan diri anak.
 
Maka tumbuh kuat Aqidahnya, karena setiap hari hatinya diketuk dgn dalil" AlQur'an. Dan jg dijelasakan makna" Hadits, serta membuat hatinya bercahaya dgn Ibadah" yg dibiasakan.
Agama itu rasa, itulah iman. Karena Agama itu rasa, maka tdk bisa hanya logika belaka. Ia akan tumbuh dgn bertahap. Ia fitrah dlm diri anak.
 

Talqin dlm pendidikan amat penting, untuk membentuk pemikirannya.
 

Talqin itu fase sebelum memahami.


Maka ketika sudah ditalqin, segala sesuatu mengenai Islam akan masuk dlm pemikiran mereka, dan itulah yg menentukan perilaku mereka.

Abul Az Zai berkata, anak" sejak kecil sudah merasakan kesadaran beragama. Selanjutnya beliau berkata, dlm penelititian" terkini, "kalau kematangan beragama sudah dipupuk sejak awal, maka anak itu akan melewati puber/remaja dgn mulus."

Nabi Yahya belajar AlKitab sejak usia 3 tahun, dikatakan oleh Ibnu Abbas. Selanjutnya Ibnu Abbas berkata, ketika Nabi Yahya merasa asyik belajar AlKitab, beliau ketika diajak main maka ia berkata "bukan untuk bermain aku diciptakan."

Tidak seperti sekarang, pembelajaran Aqidah terbatas pada menghafal rukun Islam dan Iman.

Tugas Rasul dlm mensucikan jiwa ialah dibacakan Alqur'an.

Imam Hasan AlBashri : yg tertancap di hati itulah iman, setelah itu dibuktikan dgn amal.

Peresume: Hilman Zulfahmi

You Might Also Like

0 comments

makasih ya udah baca :)
tambah makasih kalo mau kasih comment dibawah ini ^____^

Popular Posts

Featured post

Disclaimer

Sumber: di sini Saat kemarin membuka blog ini setelah 3 tahun 3 bulan 15 hari berlalu.. saya akhirnya mulai merapikan blog ini kembali ...

My Latest Vlog on Youtube

My latest post on instagram